PENTINGNYA MEMILIKI PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MILENIAL

                                                         

PENTINGNYA MEMILIKI

PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MILENIAL

Oleh:

Fakhrunnisa Atila


Abstrak

Seseorang akan terlihat dari karakter yang ia miliki, baik dari segi agama, moral maupun etika. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha yang harus diterapkan pada diri seseorang. Di zaman milenial atau biasa disebut dengan genersai Y kita sangat dituntut dalam berteknologi. Hidup di zaman milenial ini bukan cuman kita dituntut untuk bisa berteknologi, tetapi juga dituntut untuk pandai dalam menggunakannya dan pandai memilah informasi. Sebab apa yang kita dapatkan memiliki dampak, baik itu dampak positif ataupun dampai negativf. Dampak itupun akan sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang atau peserta didik sekali pun. Dengan itu artikel ini ditulis dengan tujuan untuk memberitahukan bahwa begitu pentingnya memiliki pendidikan karakter di zaman milenial ini .

Kata kunci : Pendidikan karakter, milenial

A.    Pendahuluan

Pendidikan karakter yang telah tercantum di dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana agar terwujud suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif di mana peserta didik bisa mengembangkan potensi dirinya supaya mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (2003).

Menurut Agus Wibowo pendidikan karakter adalah salah satu peran lembaga pendidikan dalam membina para penerus bangsa supaya berprilaku baik dan sopan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat, sehingga akan menghasilkan penerus bangsa yang berkarakter yang telah menjadi cita-cita bersama, maka dalam hal ini peran pendidikan untuk anak sangat penting sebagai dasar pembentukan diri sejak dini (2012:33).

Karakter adalah sifat, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang teerbentuk dari hasil perpaduan sebagai kebaikan yang diyakini dan digunakan sebagai pedoman untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Sedangkan pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter yang dirinya miliki, mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya, sebagai anggota masyarakat dan warganegara yang memiliki sikap agamis, nilai dan sikap nasionalis, nilai produktif dan nilai kraeatif (Kemendiknas, 2010).

Oleh karena itu telah di jelaskan, bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah pendidikan dasar yang harus dimiliki setiap individu karena pendidikan karakter ini mengajarkan tentang norma, moral, agama dan kebiasaan seseorang dalam cara berpikir dan bertindak di lingkungan keluarga maupun pada lingkungan masyarakat. Peran yang dibutuhkan dalam pengajaran pendidikan karakter ini adalah orang tua dan guru.

B.     Pembahasan

1.      Pengertian Karakter

Karakter berasal dari bahasa latin yakni character yang berate watak, tabiat, sifat-sifat kejiawaan, budi pekerti, kepribadian. Menurut kamus besar bahasa Indonesia karakter adalah sifat-sifat kejiwaan dari yang lain. Sedangkan menurut Ditjen Mandikdasmen-Kementrian Pendidikan Nasional karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Definisi karakter dari para ahli, adalah sebagai berikut:

a.       Menurut Hibur Tanis, bahwa karakter merupakan watak, tabiat, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya (Tanis, 2013).

b.      Menurut Thomas Lickona, karakter merupakan sifat alami seseorang dalam menaggapi situasi secara bermoral. Sifat alami tersebut tercermin dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain, displin, dan karakter mulia lainnya (Lickona, 1992).

Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adlah usaha dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak atau peserta didik. Menurut seorang ahli Omeri (2015) bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan (knowledge), kesadaran atau kemauan (willingness), dan tindakan (action) untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap sang Pencipta, diri sebdiri, sesama manusia, lingkungan tempat tinggal, maupun tanah air (Omeri, 2015). Sedangkan, menurut Kesuma dkk (2011) berpendapat  bahwa pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkan kembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu (Kesuma, Triatna and Permana, 2011).

2.      Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter ini bertujuan untuk membangun sebuah bangsa yang kokoh dengan masyrakatnya yang berbudi pekerti tinggi, bermoral, bertoleransi, dan bergotong royong. Selain itu, tujuan dari adanya pendidikan karakter ini adalah untuk mengajarkan sebuah nilai-nilai tradisional tertentu, yang dapat diterima secara luas sebagai dasar perilaku yang baik serta bertanggung jawab dan juga nilai moral (Zuchdi, 2009).

Adapun tujuan dari pendidikan karakter yang harus dimiliki setiap individu adalah, sebagai berikut:

a.       Menanamkan jiwa bertanggung jawab pada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri maupun pada orang lain, bangsa dan negara.

b.      Menumbuhkan kebiasaan berprilaku baik dan terpuji terutama pada anak ataupun peserta didik yang dalam hal ini lebih mudah untuk dibimbing

c.       Menumbuhkan nilai rasa memiliki dam menghormati terhadap keanekaragaman budaya dan bangsa

d.      Mengembangkan kebiasaan mandiri, kreatif, bergotong royong, tanggung jawab, dan teguh pendirian

e.       Menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang kondusif, terbiasa dengan nilai-nilai perilaku yang baik seperti disiplin, Kerjasama, bertoleransi dan saling menghormati antar sesama.

3.      Prinsip Pendidikan Karakter

Selain memiliki tujuan pendidikan karakter juga memiliki prinsip, adapun prinsip yang dimiliki dalam pendidikan karakter adalah a) kontinuitas, proses pengembangan karakter yang dimulai dari tingkat pendidikan terendah sampai tertinggi, b) disisipkan pada semua pelajaran yang ada disekolah baik berupa seleksi bakat maupun muatan lokal, c) pengembangan bakat melalui aspek afektif, kognitif dan psikomotor, d) proses pembelajaran pada peserta didik dengan metode yang efektif (Hidayah, no date, p. 25).

Namun, secara khusus ada beberapa prinsip dari pendidikan karakter adalah, sebagai berikut:

a.       Menonjolkan etika sebagai dasar dari sebuah karakter.

b.      Mengenalkan karakter secara detail agar meliputi pola piker, perasaan, dan sikap baik.

c.       Memakai metode yang tegas, aktif da efektif untuk membentuk karakter.

d.      Membuat organisasi sekolah yang mempunyai rasa peduli sosial.

e.       Peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan sikap yang sopan.

f.        Menumbuhkan motivasi diri pada peserta didik.

g.      Seluruh staf sekolah di fungsikan sebagai pembimbing moral yang bertanggung jawab agar pendidikan karakter terlaksana

h.      Terdapat pengelompokan yang bertugas pada point moral dan support yang kuat dalam berinisiatif menumbuhkan pendidikan karakter.

i.        Keluarga dan anggota masyarakat difungsikan dalam usaha membangun karakter misalnya sebagai mitra.

j.        Melakukan evaluasi karakter pada pihak sekolah, para staf sekolah sebagai pembina karakter, dan penunjang karakter positif dalam kehidupan peserta didik (Solikan, 2012).

Sedangkan Koesoema (2011: 145) menyatakan bahwa prinsip pendidikan karakter dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu sebagai berikut:

1.      Sikap dan watak seseorang dapat dilihat dari apa yang dilakukan bukan apa yang dikatakan.

2.      Keputusan yang diambil seseorang dapat mencerminkan kepribadiannya seperti apa.

3.      Perilaku yang baik dapat dilakukan dengan sikap-sikap yang baik pula

4.      Berpatokanlah pada perilaku orang lain yang lebih baik dari kita

5.      Menjadi pribadi yang baik akan mendapat perilaku yang baik pula.

Selanjutnya dari berbagai pemaparan di atas, maka prinsip-prinsip dari pendidikan karakter dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a.       Prinsip konsistensi atau teguh pendirian dalam hal kebaikan

b.      Selalu berpedoman pada hal yang baik

c.       Selalu berpikiran optimis dalam hal kebaikan

d.      Tegas dan bijaksana dalam mengambil keputusan

e.       Istikamah dalam membiasakan berperilaku dengan nilai-nilai karakter yang positif.

f.        Tidak mudah putus asa dalam melakukan kebaikan untuk meraih kesuksesan

4.          Pendidikan Karakter Di Milenial

Zaman milenial adalah penduduk yang lahir antarae 1980 sampai 2000 an, atau bisa disebut dengan generasi Y. Para generasi milenial ini tidak bisa lepas dari namanya teknologi atau gadget, yang mana pada zaman sekarang ini sesuatu yang berbau dengan teknologi sudah menjadi kebutuhan, baik menjadi kebutuhan dalam dunia kerja maupun menjadi kebutuhan sekolah. Di zaman ini semua serba canggih, bahkan saat kita kesulitan dalam menjawab sebuah soal kita bisa mencari jawaban tersebut diinternet, bukan hanya itu informasi yang sedang trending pun kita tahu, maka dengan itu pentingnya memiliki pendidikan karakater di zaman ini, karena apa dampak dari sebuah alat digital ini sangat berpengaruh dalam sebuah karakter seseorang atau peserta didik.  Adapun ciri-ciri generasi milenial terdapat 3 ciri utama yaitu, pertama memiliki percaya diri berani mengemukakan pendapat, serta tidak sungkan berdebat didepan public. Kedua kreatif, kebanyakan dari generasi milenial ini terbiasa berpikir out of the box (berfikir diluar yang sebagian besar orang pikirkan), memiliki banyak ide dan gagasan serta mapu mengkomunikasikan ide tersebut dengan sangat baik. Ketiga adalah pintar dalam bersosialisasi, terutama pada setiap komunitas yang diikuti, baik secara online atau luring (luar jaringan), serta aktif dalam beberapa media sosial dan internet (Ali, Hasanuddin dan Purwandi, 2017).

Karakter diartikan sebagai nilai-nilai perilaku manusia, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan, perasaan, perbuatan yang bersumber dari norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat yang menjadi ciri khas seseorang. Proses pembentukan karakter selain 92 memerlukan communities of character (keluarga, sekolah, institusi keagamaan, media, pemerintah dan berbagai pihak lain) juga dipengaruhi oleh tingkat resiliensi yang ada dalam tiap individu. Ciri utama pribadi dengan resiliensi tinggi adalah kemampuan mempertahankan perasaan positif, kesehatan dan energi. Individu juga memiliki kemampuan memecahkan masalah yang baik, berkembangnya harga diri, konsep diri dan kepercayaan diri secara optimal. Adapun individu yang tidak resilien, akan mudah terpuruk dan putus asa apabila ditimpa permasalahan. Kondisi demikian akan berimbas pada individu, apakah individu memiliki rasa percaya diri dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi, dapat bertanggungjawab pada tugasnya atau tidak. Demikian pula bila individu tidak cerdas dalam mengendalikan emosinya, maka yang muncul adalah sifat-sifat negatif. Dapat dikatakan bahwa orang yang tidak resilien akan menghambat proses pembangunan/pembentukan karakter yang lebih baik kualitasnya (Uyun, 2012).

Pendidikan karakter ini bukan hanya mengejarkan tentang yang mana baik dan yang salah, namun pendidikan karakter ini menanamkan yang namanya kebiasaan (habituation) didalam diri peserta didik, sehingga peserta didik tahu mana yang baik, maka dari itu peserta didik akan paham (kognitif) tentang sesuatu yang benar dan salah, serta mapu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikimotor). Sebuah pendidikan karakter yang baik harus melibatkan aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan sebuah perilaku yang baik (moral action) (Ika Chastantil, 2019). Sebuah pendidikan karakter sangat menekankan pada kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan dilakukan. Nilai-nilai integrasi bisa dilakukan pada saat satu atau lebih pokok bahasan di setiap materi pembelajaran. Secara internal sendiri bahwa setiap nilai mengandung elemen pikiran, perasaan, dan perilaku moral yang secara psikologis saling berinteraksi satu sama lainnya. Nilai-nilai karakter yang baik dengan menjadi pribadi yang unggul, beretika, berakhlak dan bermoral menurut ajaran Islam terdiri dari 2 nilai, yaitu Rabbaniyah dan nilai Insaniyah. Nilai Rabbaniyah sendiri adalah nilai-nilai yang meliputi imna, Islam, ihsan, taqwa, ikhlas, tawakkal, syukur dan sabar. Sedangkan nilai Insaniyah sendiri adalah nilai-nilai yang meliputi silaturrahim, persaudaraan ,(ukhuwah), persamaan (al-musawat), adil (‘adl), baik sangka (husnudzon), rendah hati (tawadhlu’), menepati janji (wafa’), lapang dada (insyirah), perwira (‘iffah, ta’affut), hemat (qawamiyah), dan dermawan (Rosyid, 2020).

Sebuah karakter yang terdapat pada di dalam diri seseorang akan terbentuk dari sebuah in ternalisasi nilai yang bersifat konsisten, yang artinya adalah terdapat sebuah keselarasan antar elemen nilai. Secara psikologis dan sosiokultrural suatu nilai harus koheren dengan nilai lain dalam kelompoknya untuk membentuk sebuah karakter yang utuh, misal karakter jujur yang merupakan gabungan dari nilai jujur, tnaggung jawab, dan peduli serta nilai lain. Karakter manusia merupakan sebuah hasil dari tarik-menraik antara nilia baik dalam bentuk energi positif dan nilai buruk dalam bentuk energi negatif.

Energi positif itu berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber dari keyakinan kepada Tuhan. Sikap dan perilaku etis itu meliputi : istikomah (integritas), ikhlas, amal saleh dan bertakwa. Sedangkan orang memiliki akhlak budi pekerti luhur, jika memiliki personality (integritas, komitmen dan dedikasi), capacity (kecakapan) dan competency yang baik (profesional). Energi negatif itu disimbolkan dengan kekuatan materialistik dan nilai-nilai destruktif. Nilai-nilai material justru berfungsi untuk penggelapan nilai-nilai kemanusiaan berupa pikiran sesat, hati yang sakit, hati yang mati, tidak punya nurani jiwa yang tercela, takabur (congkak), dzalim (aniaya) yang di gambarkan dengan perilaku kejahatan, tindak kriminal, perbuatan asusila, penggunaan narkoba, berbagai penyelewengan, korupsi, bullying yang menandakan rendahnya akhlak, budi pekerti dan karakter bangsa (Madinah, 2019), (Suriadi, Kamil, 2019).

Pada zaman milenial ini diperlukannya sebuah persiapan dalam menghadapi tantangan generasi Y, yang sangat diperlukan dalam persiapan ini adalah harus adanya perhatian yang serius dalam sebuah sektor pendidikan yang lebih efektif dan terukur, sehingga hasilnya dapat dirasakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan negara. Persiapan yang diberikan negara kepada generasi milenial dalam menghadapi era globalisasi salah satunya dengan cara menjalankan program pendidikan karakter yang terpola dan terukur. Sudah banyak negara maju yang menjalankan program tersebut dan berhasil menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang unggul. Sehingga dapat diharapkan dengan adanya keseriusan pemerintah dalam menjalankan program pendidikan karakter ini pada sektor pendidikan, generasi milenial yang dimiliki Indonesia dapat bersaing dan memiliki kompetensi yang baik dalam menghadapi era globalisasi ini (Lalo, 2018).

 

C.    Penutup

Kesimpulan

Pendidikan karakter merupakan sebuah pendidikan dasar yang harus dimiliki setiap individu karena pendidikan karakter ini mengajarkan tentang norma, moral, agama dan kebiasaan seseorang dalam cara berpikir dan bertindak di lingkungan keluarga maupun pada lingkungan masyarakat.

Pendidikan karakter ini bertujuan untuk membangun sebuah bangsa yang kokoh dengan masyrakatnya yang berbudi pekerti tinggi, bermoral, bertoleransi, dan bergotong royong.

Prinsip yang dimiliki dalam pendidikan karakter adalah a) kontinuitas, proses pengembangan karakter yang dimulai dari tingkat pendidikan terendah sampai tertinggi, b) disisipkan pada semua pelajaran yang ada disekolah baik berupa seleksi bakat maupun muatan lokal, c) pengembangan bakat melalui aspek afektif, kognitif dan psikomotor, d) proses pembelajaran pada peserta didik dengan metode yang efektif.

Persiapan yang diberikan negara kepada generasi milenial dalam menghadapi era globalisasi salah satunya dengan cara menjalankan program pendidikan karakter yang terpola dan terukur. Sudah banyak negara maju yang menjalankan program tersebut dan berhasil menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang unggul. Sehingga dapat diharapkan dengan adanya keseriusan pemerintah dalam menjalankan program pendidikan karakter ini pada sektor pendidikan, generasi milenial yang dimiliki Indonesia dapat bersaing dan memiliki kompetensi yang baik dalam menghadapi era globalisasi ini

 

DAFTAR PUSTAKA

            Ali, Hasanuddin dan Purwandi, L. (2017). Millennial Nusantara, Pahami Karakter, Rebut Simpatiny. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

            Fadilah, dkk. (2021). Pendidikan Karakter. Bojonegoro: CV. Agrapana Media

            Kesuma, D., Triatna, C. and Permana, J. (2011) Pendidikan Karakter kajian teori dan praktik di sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.

            Lalo, K. (2018). Menciptakan Generasi Milenial Berkarakter dengan Pendidikan Karakter guna Menyongsong Era Globalisasi. Ilmu Kepolisian, 12(2), pp. 68–75.

            Lickona, T. (1992). Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

            Madinah, M. (2019). Dasar Pembentukan Akhlak - Miniatur Madinah Al Amien. Available at:https://miniaturmadinahalamien.com/dasar-pembentukan-akhlak /(Accessed: 15 December 2020).

            Omeri, N. (2015). Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikna. p. 5.

Rosyid, A. F. (2020). Kajian Teori Karakter. Tulungagung.

Solikan (2012). Prinsip dan Tujuan Pendidikan Karakter (unpublish paper)

Suriadi, Kamil, M. (2019). Pendidikan Karakter Anak Dalam Keluarga, Madaniyah, Jurnal Anak, 9, pp. 251– 267

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL‟ (2003)

Tanis, H. (2013). Pentingnya Pendidikan Character Building dalam Membentuk Kepribadian Mahasiswa. Humaniora, 4(2), p. 1212. doi: 10.21512/humaniora.v4i2.3564

Uyun, Z. (2012). Resiliensi dalam pendidikan karakter. Seminar Nasional Psikologi Islami, 1(1), pp. 200–208.